Bagaimana Bermuamalah dengan Non Muslim

6 03 2009

Ditanyakan oleh : Indah
Dijawab Oleh : Ust. Muhammad Nur Yasin

Assalammu’alaykum wR. wB.
Ust. yasin yang dirahmati Allah,

saya seorang mahasiswi semester 2, saya punya 2 pertanyaan,
yang pertama mengenai pergaulan dengan teman-teman non Islam di kampus. Di kelas saya mayoritas muslim, sisanya kristen,budha,hindu, dalam jumlah yang tidak sedikit. Hubungan kami cukup baik antarsatu sama lain. yang jadi masalah adalah saya yang seorang muslimah ini berteman cukup baik dengan salah seorang mahasiswa kristen di kelas. Saya yang awalnya hanya ingin sharing materi kuliah(karena dia termasuk yang terpandai di kelas),semakin hari saya jadi menyukainya sebagai lawan jenis, walaupun saya berusaha mengurangi interaksi dengannya. Memang kalau saya lihat pergaulan di kelas terutama didasarkan pada kepandaian.Apa yang seharusnya saya lakukan untuk tetap menjaga hati saya dan menjaga image yang baik sebagai muslimah?
Yang kedua, saya mohon tips dari ustadz mengenai cara-cara menghapal ayat AlQuran agar lebih mudah lekat dan tidak mudah lupa.
Jazakallah khairan atas jawabannya.

Jawaban:

Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Ada dua hal yang ingin saya tegaskan disini.
1.Masalah pergaulan antar agama
2.Masalah pergaulan antar jenis

Terhadap orang kafir kita harus bersikap keras .
1. Lihat Qs.Al-Maidah:54, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas , lagi Maha Mengetahui”

2. Lihat Qs.Al-Mujadilah:22, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”.
3. Lihat Qs.Al-Fath:29, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir . Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
4. Ketika Nabi Nuh alaihissalam merasa anaknya adalah bagian dari keluarganya, maka ia memohon kepada Allah untuk keselamatannya, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menolaknya, dengan membantah bahwa ia bukan bagian dari keluarganya karena kekufurannya.Lihat Qs.Hud:45-46, “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu , sesungguhnya nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Kita diperbolehkan berinteraksi dengan mereka sebatas memenuhi hak. Kalau dia sebagai tetangga, penuhilah haknya sebagai tetangga (bukan menghormatinya). Kalau dia sebagai pembeli, penuhilah haknya sebagai pembeli (bukan karena mencintainya).Kalau dia sebagai partner bisnis, penuhilah dia hak-hak bisnisnya. Kalau dia sebagai teman kuliah, penuhilah haknya sebagai teman (bukan karena simpatik). Boleh saling menanyakan pelajaran karena itu adalah hak pertemanan. Jangan sampai mencintai mereka. Oleh karena itu, menjadikan orang kafir sebagai teman akrab adalah berdosa, karena sudah dipastikan di dalam hatinya ada rasa simpatik/loyal kepadanya. Ini sebagai firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Qs.Al-Mumtahanah:8-9, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Tentang pergaulan antar jenis.
Islam telah mensyari’atkan kepada umatnya batasan-batasan dalam pergaulan antar jenis. Di antaranya:
1. Larangan memandangi lawan jenis yang bukan mahram.
Lihat Qs.An-Nur:30-31, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

2. Ketika ada hajat dengan lawan jenis, bertanyalah atau sampaikanlah di balik tabir. Sebagaimana Qs. Al-Ahzab;53, “ Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka , maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” Jika kondisi perkuliahan saudari belum Islami (belum memungkinkan untuk yang demikian), bersikaplah sebisa mungkin secara maksimal karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Seluruh tubuh wanita adalah aurat ( masih diperbolehkan menampakkan wajah dan telapak tangan, seandainya mampu menutup keduanya maka itu sangat utama).Maka, janganlah saudari tampakkan aurat anda kepada yang bukan mahram. Jadi, pakailah pakaian islami yang disebut jilbab. Ciri-cirinya adalah: a.menutup seluruh tubuh, b.longgar (tidak ketat dan membentuk lekak-lekuk tubuh), c.tidak transparan, d. tidak menyerupai pakaian ciri khas lelaki e.tidak syuhroh (pakaian nyleneh, biar cari perhatian). Lihat Qs. Al-Ahzab: 59, Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ditambah jangan sampai memakai parfum sehingga tercium lelaki yang bukan mahram.

Sebagaimana Hadits Nabi sallallahu alaihi wa sallam riwayat Imam An-Nasa’i, “Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki sehingga mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.

4. Tidak boleh khalwat (berduaan menyendiri)

5. Tidak boleh mengadakan perjalanan jauh kecuali harus ditemani mahramnya, tidak boleh sendirian dan tidak boleh ditemani teman lelaki bukan mahram.

6. Tidak boleh ber-tabarruj (bersolek) kecuali untuk suaminya.

Semoga saudari bisa mengamalkannya sehingga mendapatkan ridla Allah subhanahu wa ta’ala demi meraih Surga-Nya. Amin.

Tentang menghafal Al-Qur’an, tentunya masing-masing mengetahui cara tersendiri. Yang terpenting untuk diketahui adalah bahwa menghapal itu lebih mudah dari pada mengulang-ngulang hapalan. Oleh karena itu, usahakan jangan buru-buru ingin menambah hafalan sehingga ayat atau surat yang sudah dihafal benar-benar di luar kepala sebagaimana hafalan al-Fatehah. Wallahu a’lam

sumber: http://maramissetiawan.wordpress.com/

Iklan




Liburan Berhasil vs Gagal

21 02 2009

BERLIBUR TIADA SALAHNYA..

“Berlibur tiada salahnya karena liburan itu indah,
hanya apabila salah memilihnya membuat kita jadi bersalah..”
Pernah dengar kan sepotong Mari Berhibur punya Raihan di atas…?

LIBURAN ALA RASULULLAH DAN SAHABAT

  1. Olahraga, seperti: lomba lari, gulat, memanah, bermain anggar, berburu, menunggang kuda
  2. Menyanyi dan mendengarkan alunan nada yang harmoni.
  3. Menonton pertunjukkan (film, teater, dsb)
  4. Bercanda/bergurau, misalnya melontarkan tebak-tebakan, bercerita lucu, dsb.
  5. Ziarah, bisa berkunjung ke rumah saudara, bisa juga jalan-jalan.
  6. Rihlah, atau bepergian. Ada 4 jenis rihlah, yaitu Rihlah untuk menyelamatkan diri, Rihlah untuk mencari ilmu pengetahuan, Rihlah untuk pemuliaan, dan Rihlah untuk tamasya.

BERHASIL VS GAGAL, YANG MANA?

Ketika rutinitas kembali menghadang, sobat alvo bisa mengevaluasi apakah liburan yang lalu berhasil atau sebaliknya:

  1. Perasaan bahagia dan makin cinta dengan orang sekeliling –> Berhasil
  2. Fresh, segar badan dan fikiran –> Berhasil
  3. Punya rencana-rencana baru untuk menambah kemajuan diri –> Berhasil
  4. Takut menbayangkan akan bertemu lagi dengan rutinitas –> Gagal
  5. Bawaannya kesal dan selalu bete –> Gagal
  6. Malas, pengen libur selamnya –> Gatot alias  Gagal Total

Sumber: [mala] Annida N0. 17/XIII/1-15 Juni 2004/12-26 Jumadil Ula 1425 H